John Maple

Kurindu Kasih Sayangmu

Posted on: 2 Maret 2010


Disuatu desa di daerah Sragen ada anak sebut saja Dyah. Dia sudah lama sekalli ditinggal oleh kedua orang tuannya. Kurang lebih dia sudah ditinggal 3 tahun. Bapaknya meninggal karena sakit, sedangkan ibunya meninggal karena sakit juga. Sekarang dia hidup bersama kakaknya, neneknya, dan ibu tirinya. Dia sekarang masih duduk kelas XII SMA di daerah sragen. Sering sekali di mendengarkan cerita teman-temannya kalau mereka mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ingin sekali dyah merasakan itu. Tapi kelihatannya itu sangat sullit baginya untuk mendapatkan itu karena ibu tirinya sibuk dengan kerja, sedangkan kakaknya juga sibuk dengan kerja, bahkan kakaknya itu tidak peduli sama dengan dyah. Nenek dyah sudah tua, tidak bisa memberikan kasih sayang yang sebenarnya ingin dyah rasakan. Walaupun hanya berupa perhatian saja, tapi itu semua sangatlah berarti bagi dyah. Sekarang dyah hanya bisa pasrah, sabar, tawakal, dan tersu beriktiar kepada-Nya, supaya diberi petunjuk, kemanakah dyah akan melangkah.

Disuatu ketika dyah sedang bermain di rumah temannya. Dia melihat kalau temannya itu sedang dimanja oleh kedua orang tuanya. Kemudian dyah langsung berlari keluar rumah, karena dia tidak ingin melihat kejadian yang membuatnya teringat oleh seseorang yang sangat dia sayangi dan kasihi, yang kini sudah kembali kepada-Nya. Tak lama kemudian temannya itu mendatangi dyah dan bertanya kepada dyah.
“Kamu kenapa yah?” tanya dewi..
“Aku nggak pa pa kok wi.” dengan meneteskan air mata.
“ Nggak pa pa kok nangis?”
Dyah tidak ingin kalau temannya itu tahu kalau dyah adalah anak yatim piyatu. Karena menurutnya itu semua tidak akan ngaruh sama dirinya. Dyah tetap tidak ingin bercerita sama orang lain, biarlah itu menjadi rahasia dia dengan hidupnya. Lalu dyah mengusap air matanya dan kemballi masuk kedalam rumah dewi. Dewi yang masih penasaran mengikuti Dyah masuk kedalam rumah.
“Yah, kamu ni kenapa tho, kok tiba-tiba nangis tanpa sebab gitu? Ayolah cerita dong sama aku, sapa tahu saja aku bisa Bantu menyelesaikan masalahmu.”
“Nggak pa pa ko wie. Aku baik-baik saja kok. Kamu nggak usah kawatir.”
“Nggak kawatir gimana maksudmu? Masa ada orang nangis tanpa sebab dibilang nggak pa pa?”
Dewi terus memojokan dyah, agar temannya itu mau bercerita. Dewi ingin melihat senyum lebar yang sudah lama sekali. Dyah tetap saja diam, seolah olah dia tidak ingin kalau semua temannya itu tahu kejadian sebenarnya. Karena dyah terus di tekan oleh dewi maka dia putuskan untuk kembali pulang kerumah. Dewi yang masih penasaran, hanya bisa bertanya-tanya di dalam batin saja.

Sesampainya dirumah dyah langsung melihat foto kedua orang tuanya yang sudah lama sekalli meninggal. Dyah langsung mengucurkan air mata, dia menangis. Kemudian memeluk foto tersebut.
“Pak, bu, sebenarnya aku tu pingin banget ngrasain kasih sayang seperti teman teman yang lainnya, yang mempunyai keluarga lengkap. Mereka bercanda, berbagi cerita, senang dan sedih mereka lalui dengan bersama. Sedangkan aku? Hanya bisa melihat saja, tanpa harus bisa merasakan hal ingin aku rasakan. Kenapa Bapak dan Ibu meningglkan aku? Aku masih perlu kasih sayangmu dan perhatianmu.”
Dyah masih melihat foto tersebut, air matanya semakin deras saja, dan tak terpendung lagi. Di dalam batinya, dia ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuanya. Ingin menyusul kedua orang tuanya. Tapi itu semua mustahil, karena perjalanan hidup dyah masih panjang.

Akhirnya hari minggu tiba, hari dimana semua anggota keluarga berkumpul untuk mengabiskan waktu bersama. Tapi, bagi dyah itu semua merupakan hal yang biasa. Karena dyah tidak bisa merasakan itu. Setiap hari dyah selalu menghabiskan waktu dengan merenung saja. Hingga suatu ketika dyah sudah tidak kuat menahan beban yang sudah lama sekalli dia pendam dalam hatinya. Akhirnya dyah bercerita dengan temannya itu si dewi.
“Wi?” panggil dyah.
“Yaw, ada apa sayang?” jawab dewi kecentilan.
“Aku mau cerita nih!!”
“Cerita apaan?” dewi yang penuh penasaran langsung girang karena akhir akhir ini dyah jarang sekali cerita sama dirinya.
“Gini wi, sebenarnya aku tuh…”
“Aku apa yah!!” dewi langsung memotong kata-kata dyah.
“Aku tuh sebenarnya….” Kata dyah yang masih terpotong-potong.
Dewi yang terlalu penasaran itu langsung memegang pundak dyah dan berkata “Yah, kamu cerita saja sama aku. Kamu tenang saja, aku nggak akan cerita sama orang lain. Justru aku akan membantu kamu menyelesaikan masalah kamu. Aku janji yah.”
“Wi, sebenarnya aku tuh anak yatium piyatu.” Jawab dyah dengan suara pelan.
Dewi langsung terkejut dan langsung melihat mata dyah.
Dyah langsung meneteskan air mata. Dan kemudian memeluk si dewi. Dewi yang masih terkejut, juga ikut terhanyut dalam suasana tersebut. Dewi ikut menangis.
“Udah yah, kamu nggak sendirian kok. Masih ada aku, dan teman-teman yang lain. Kamu tenang saja. Aku akan selalu ada buat kamu yah.” Jawab dewi sambil memeluk dyah dan menangis.
Dyah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia ditinggal kedua orang tuanya.

Selang beberapa menit kemudian, dewi langsung mengajak dyah maen, shopping, dan bercanda. Biar dyah itu bisa melupakan kejadian waktu itu, sehingga dia bisa menempuh masa depannya yang lebih cerah.

Dyah sudah mulai bisa menerima keadaan yang selama ini telah merenggut sebagian jiwanya. Hingga suatu saat dia bertemu dengan seorang cowok. Yang dianggapnya tampan luar dalam. Nama cowok itu Cahyo, dia adalah orang kantoran. Dyah mengenal cahyo karena dikenalkan dengan temannya. Dyah mengenal cahyo sudah cukup lama. Cahyo merupakan sosok yang sangat sempurna dimata dyah, tak hanya cakep diluar saja, tapi cahyo juga cakep dari dalam. Sangat jarang dia temui cowok seperti ini.

Sudah 2 bulan mereka saling mengenal satu sama lain. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pacaran. Dyah sudah lama sekali ditinggal oleh kedua orang tuanya itu mulai bangkit, dia sudah bisa mengiklaskan kalau dia sudah ditinggal kedua orang tuanya dan tak mungkin bisa kembali. Dyah sangat bahagia sekali karena bisa mengenal sosok cowok yang sempurna. Sekarang dyah tidak lagi menangis. Karena sudah ada tambatan hatinya itu. Dyah sangat bersyukur sekali, karena Allah SWT sudah memberikan pangeran yang tampan dari luar dan dalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Contact Person

Jhon Maple

Juni Eko Kuncoro 085725476726

jek.100webspace.net

Daftar Pengunjung

Visitor

free counters

Patner

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service
ilmuwebsite.com
ilmuwebsite.com

tutorial ilmu grafis indonesia
ilmugrafis indonesia

Info-Berita Cas Cus

O’clock

Calender Hijriah

favorit

RSS Olah raga

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Berita Terkini

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Detik.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Sekilas info

RSS Selebrity Info

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kalender

Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: