John Maple

Museum Memang Tidak Menarik

Posted on: 19 November 2009


“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”. Slogan semacam ini terpampang di setiap museum atau situs bersejarah di Indonesia. Slogan yang berisi himbauan moral agar setiap warga bangsa ini insyaf terhadap sejarah perjalanan bangsanya. Kesadaran sejarah ini pada ujungnya diharapkan mengristal menjadi kesadaran terhadap nasionalisme. Jangan sampai bangsa kita menjadi bangsa yang amnesia. Bangsa yang lupa atau tidak peduli terhadap sejarahnya.
Museum pada dasarnya mempunyai fungsi pokok sebagai pengingat akan kelampauan. Segala koleksi benda-benda bersejarah yang tersimpan di museum (artifact) berfungsi sebagai petunjuk adanya peristiwa penting di masa lalu. Objek-objek material itu menjadi saksi bisu perjalanan bangsa. Secara teknis, museum bertugas untuk merawat, memelihara, dan mengamankan koleksi benda bersejarah yang tak bernilai harganya.
Ada satu permasalahan yang melanda museum di Indonesia yakni kesulitan untuk menarik pengunjung. minimnya jumlah pengunjung yang datang ke museum mengindikasikan kenyataan tak terbantahkan bahwa museum memang tidak menarik. Kelompok orang yang setia mengunjungi museum adalah para siswa SD di kala musim liburan sekolah. Kelompok pengunjung ini merupakan golongan yang masih bisa “dipaksa” untuk mengunjungi museum. Kelompok orang muda dan orang tua semakin malas mengunjungi museum.
Berdasarkan pengamatan penulis, ada beberapa hal yang menjadi sebab mengapa museum menjadi tempat yang tidak menarik untuk dikunjungi. Pertama, minimnya koleksi benda-benda bersejarah yang dimiliki oleh suatu museum. Kekayaan suatu museum dapat ditilik dari seberapa banyak koleksi benda-benda bersejarah yang dimiliki. Kekayaan baik secara kualitas maupun kuantitas menjadi faktor penting untuk menarik minat pengunjung mendatangi museum. Museum di kawasan Eropa dan Amerika Serikat selalu padat pengunjung karena kaya akan koleksi benda-benda bersejarah. Wajar kiranya jika museum di Indonesia sepi pengunjung karena koleksinya itu-itu saja, tidak mengalami pertambahan secara signifikan dari tahun ke tahun. Ironisnya, koleksi tidak bertambah malah semakin berkurang, raib entah kemana.
Koleksi museum-museum di Indonesia pada umumnya menawarkan koleksi yang bernuansa era-era perjuangan melawan penjajahan. Segala hal yang berbau perjuangan dipajang. Dari tempat tidur Pak Dirman hingga jimat-jimat milik para pejuang semua ada di museum. Namun masih ada hal yang kurang afdol, jika semua hal yang berbau ke-Indonesia-an (pihak sini) ditawarkan lalu mengapa tidak ada koleksi yang mengambarkan pihak sana (penjajah). Seharusnya museum tidak hanya menawarkan hal-hal yang dimiliki oleh pihak sini saja tetapi juga menawarkan hal-hal yang berbau penjajah. Bukankah mereka juga pernah hidup di bumi Indonesia.
Kedua, suasana museum memang tidak atraktif. Museum identik dengan citra gudang penyimpanan barang-barang tua yang tidak berguna. Ruangannya gelap, suram, dan menjemukkan. Bangunan museum memang megah tetapi tidak terawat. Kekurangan dana dan kurangnya kreativitas para pengelola museum menjadi alasan mengapa tidak tercipta suatu atmosfer atraktif di dalam museum. Bagaimana para pengunjung akan berduyun-duyun jika mereka hanya melihat suasana yang membosankan.
Seharusnya, pihak pengelola menampilkan kegiatan-kegiatan yang menarik agar museum selalu diminati oleh pengunjung. Pihak pengelola dapat saja bekerjasama dengan pihak ketiga yaitu event organizer untuk membuat sajian acara kebudayaan yang unik dan kreatif. Kerjasama dengan pihak ketiga ini menjadi langkah terobosan untuk mengatasi permasalahan dana dan keterbatasan sumber daya manusia. Satu hal yang perlu diingat adalah jangan sampai acara kebudayaan yang diselenggarakan bertentangan dengan misi idealis museum sebagai tempat disemaikannya rasa kebangsaan.
Museum memang perlu diberdayakan, merawat museum berarti juga melestarikan masa lampau. Pelestarian masa lampau bukanlah kegiatan akuarianisme. kegiatan merawat masa lampau sangat bermanfaat bagi kepentingan masa kini dan masa mendatang. Semua pihak harus bertanggung jawab terhadap upaya menghidupkan museum sebagai sarana pengingat masa lampau.
Rasa kebangsaan hanya akan tumbuh baik bila setiap anak bangsa menyadari bahwa bangsa yang besar ini terbentuk oleh perjuangan tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih dari para pendahulunya. Para pejuang dengan sukarela telah mendarmabaktikan jiwa dan raganya untuk mencapai kemerdekaan. Kita sebagai generasi sekarang harus senantiasa mengingat dan mengisi masa sekarang dengan pembangunan sebagai bentuk penghargaan terhadap pengorbanan mereka.
Ditulis oleh teman saya, PARENTA WIJAYA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Contact Person

Jhon Maple

Juni Eko Kuncoro 085725476726

jek.100webspace.net

Daftar Pengunjung

Visitor

free counters

Patner

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service
ilmuwebsite.com
ilmuwebsite.com

tutorial ilmu grafis indonesia
ilmugrafis indonesia

Info-Berita Cas Cus

O’clock

Calender Hijriah

favorit

RSS Olah raga

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Berita Terkini

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Detik.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Sekilas info

RSS Selebrity Info

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kalender

November 2009
S S R K J S M
« Jun   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: